Google
Tampilkan postingan dengan label Profile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profile. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2008

Mak EROT Meninggal Dalam Usia 101 Thn


Tadi siang dapat email dari teman yang menginformasikan kalau tokoh legendaris khususnya untuk kaum laki-laki yaitu Mak Erot telah meninggal. Di cari di internet ternyata katanya tepatnya tgl 5 Juli kemaren tepatnya sang Legend meninggal dunia dalam usia 101 thn ( lain riwayat usianya 130 Thn )
untuk mengenangnya gw coba cari sedikit riwayat teantang sang legend ini.


untuk mengenangnya gw coba cari sedikit riwayat teantang sang legend ini.
BADE milih anu mana? (mau pilih yang mana? - red.). Pertanyaan itu meluncur hampir tak terdengar dari mulut seorang nenek renta yang dikenalkan oleh cucunya, Haidir, sebagai Mak Erot. Mak Erot menatap mata penulis ketika tak juga ada jawaban. Lalu tangan keriputnya menggeserkan salah satu dari tiga leumeung awi dengan diameter 7 cm dan panjangnya 21 cm. Konon, ukuran itulah yang banyak dipesan oleh pasien yang datang "berobat" ke Mak Erot. Selebihnya ada juga ukuran yang lebih kecil dengan diameter 5 cm panjang 20 cm, bahkan ada yang sedikit lebih kecil lagi, tetapi yang paling besar mencapai diameter 8 cm.

Komunikasi dengan Mak Erot terhenti ketika penulis menjelaskan hanya untuk bersilaturahmi dan sedikit berbincang-bincang. Untuk selanjutnya Mak Erot yang kini mengaku telah berusia hampir 90 tahun itu, didampingi cucunya, Haidir. Dalam komunikasi selanjutnya Mak Erot hanya memberikan tanda-tanda, sesekali berbisik kepada pendampingnya.

Itulah kondisi Mak Erot saat ini. Sangat berbeda ketika pada tahun 1996 saat penulis mengunjunginya untuk sebuah wawancara. Waktu itu, Mak Erot lancar berbicara, walaupun lebih banyak menggunakan bahasa Sunda. Kini tidak. Terkadang matanya menatap dan kemudian menarik napas panjang. Sudah sangat tua, tetapi pendampingnya memberikan penjelasan bahwa neneknya masih mampu mengobati para pasiennya yang datang. Mengurut dan memberikan jampi-jampi.

Meski sudah renta, pasien yang datang selalu ada. Akan tetapi, menurut pengakuan Haidir, Mak Erot lebih banyak mendapat panggilan ke hotel-hotel. Kehadirannya di hotel-hotel tertentu merupakan daya tarik komersial sekaligus bisa dijadikan sebagai daya pikat pasien untuk datang berobat. "Sebenarnya nenek saya hanya datang dan diam sambil melihat, kemudian membacakan jampi-jampi, pengurutan lebih banyak diserahkan kepada para asistennya. Asisten emak adalah anak-anak dan cucu-cucu emak sendiri yang membuka praktik di beberapa daerah," ujar Haidir.

Praktik yang dilakukan Mak Erot, sebagaimana dimaklumi lebih banyak mengarah kepada pembesaran alat kelamin pria. Caranya sederhana sekali, pasien yang datang untuk "berobat" disuruh berbaring dan langsung mendapat pemijatan. Itu dilakukan setelah pasien menunjuk salah satu dari empat buah leumeung yang ada. Selesai dipijat, pasien meminum air yang sudah diberi jampi-jampi oleh Mak Erot untuk kemudian memakan leumeung tersebut. Pasien biasanya dilarang melakukan hubungan suami istri selama sepekan dan selama itu pula ada cairan dalam bentuk minyak untuk dioleskan kepada alat kelamin pasien. Hasilnya? Wallahuallam bisyawab.

Dari hotel ke hotel

Mak Erot mengaku sudah berpraktik sejak puluhan tahun lalu. Dalam pengakuannya menyebutkan, keahliannya dalam membesarkan penis dan payudara adalah warisan dari neneknya. Awalnya praktik dilakukan hanya untuk seputar Cisolok, namun kemudian berkembang sampai akhirnya nama Mak Erot dikenal di seluruh nusantara. Nama Mak Erot identik dengan pengobatan penis dan ketika nama itu disebut, pasti siapa pun akan menyambutnya dengan senyuman. Semua pasti tahu siapa Mak Erot dan apa pekerjaan Mak Erot.

Semakin hari nama Mak Erot memang semakin mencuat. Bisnis yang dilakukan oleh Mak Erot pun ditiru oleh orang-orang yang bahkan dengan tak kenal malu menyebut nama Mak Erot dalam papan reklamenya, walaupun sebenarnya tak ada kaitan apa pun dengan Mak Erot.

Bisnis seperti yang dilakukan Mak Erot pun bisa ditemui di mana-mana. Apalagi Mak Erot sendiri seringkali ke luar rumahnya di Kampung Caringin Desa Caringin Kec. Cisolok Kab. Sukabumi untuk memenuhi panggilan atau sengaja datang ke suatu kota "dikontrak" oleh seseorang. Kehadirannya sebagaimana sudah dijelaskan hanya nongkrong untuk dijadikan dorongan sugestif terhadap pasien yang datang. Sugesti itu demikian kuat sehingga nenek renta itu harus datang dari hotel ke hotel, namun imbalannya pun lumayan. "Sekali jalan bisa meraup jutaan rupiah, tetapi bergantung banyaknya pasien, biasanya emak mendapat 50 persen," ujar Chaidir.

Untuk berobat langsung ke Mak Erot di Desa Caringin memang agak berat. Hal ini diawali oleh sambutan pengemudi ojek yang sudah nongkrong di pertigaan jalan menuju rumah Mak Erot. Bisanya untuk satu kali jalan tukang ojek meminta sampai Rp 30.000,00, tetapi itu pun bergantung bagaimana kepandaian kita menawarnya. Bahkan, dengan harga senilai itu, penulis bisa untuk pulang pergi. Apalagi jalan menuju rumah Mak Erot tidak separah beberapa tahun silam.

Bisnis Mak Erot memang banyak menguntungkan berbagai pihak. Anak dan cucu-cucunya tidak sedikit yang terjun ke dunia praktik seperti yang dilakukan Mak Erot. Tukang ojek juga cukup memperoleh uang banyak. Coba saja kalau kendaraan di luar leter "F" masuk ke wilayah Cisolok maka bermunculan penawaran-penawaran dari tukang ojek sambil bereteriak, "Mak Erot! Mak Erot! Mak Erot!" Bahkan ada beberapa yang berusaha mengejarnya.

Akhir-akhir ini bisnis Mak Erot memang sedikit lesu. Artinya, pasien yang datang tidak sederas ketika nama Mak Erot mencapai puncak keemasannya. Dua tahun silam misalnya, hampir setiap satu kilometer di jalur antara Warungkiara-Palabuhanratu sampai Cisolok akan ditemui papan nama seperti "Pengobatan Alat Kelamin", "Membesarkan Alat Kelamin", "Mak Erot, Pengobatan Alat Kelamin", dll. Kini merek-merek yang biasanya banyak ditemui sudah hilang satu demi satu. Dari Warungkiara hingga Cisolok paling hanya ada tiga papan nama yang memberitahukan adanya pengobatan alat kelamin dengan ciri khas tanda panah.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti mengapa bisnis ini mulai menunjukkan penurunannya. Ada yang menyebut karena banyaknya Mak Erot palsu, tetapi ada pula yang menyebut sudah terlalu jenuh dibohongi oleh orang-orang yang mengatasnamakan Mak Erot. Orang-orang seperti itu, pada dasarnya tidak memiliki kemampuan khusus seperti yang dimiliki Mak Erot "asli". Akan tetapi, hanya memanfaatkan nama besar Mak Erot yang sudah identik dengan pengobatan alat kelamin. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bisnis "Mak Erot palsu" itu berkolusi dengan sejumlah tukang ojek.

Sumber : pikiran rakyat
Selengkapnya......

Rabu, 18 Juni 2008

Rumah Termahal di Dunia






Ayo siapa yang udah liat rumah termahal di dunia..Rp.19 Trilyun saja hehe gila bener.
Gosipnya Lt1 - 6 cuma buat parkir mobilnya aja..udah kayak Mall aja.mo tahu siapa yang punya ?



Ini dia orangnya..namanya Shri Mukesh D. Ambani, yang sekarang dikatakan sebagai orang terkaya di dunia. Ya, dialah pengusaha kelahiran Yaman yang sekarang bermukim di India. Dialah pemimpin kelompok industri yang bernama Reliance. Pada 29 Oktober yang lalu, akibat dari menguatnya harga saham perusahaannya, Ambani dinobatkan sebagai orang paling kaya dengan total kekayaan sebesar $63.2 milyar. Berapa rupiahkah itu? Silakan hitung sendiri.

Selengkapnya......

Sabtu, 14 Juni 2008

Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup


Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.


Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

***

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,'' ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan'', awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),'' tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.

Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

***

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,'' kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

Cerita tentang ''keberhasilan'' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan...

***

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,'' ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti...
source : jawapos
Selengkapnya......

Kamis, 12 Juni 2008

Pak Lihan Sang Intan 3 Milyar


Lagi blog walking ketemu sama satu profil yang menurut gw sangat luar biasa.Seorang Ustadz yang juga pengusaha asal Banjar baru tepatnya di Liang Anggang.Ustadz kita masih sangat muda kelahiran 9 Juli 1974 ( cuma beda setahun euy ama gw ).



Ustadz Lihan duduk di tengah
Ustadz yang juga pengusaha mendadak jadi terkenal karena membeli Intan Putri Malu seharga 3 Milyar bulan Januari lalu.Bahkan sampe Gubernur Fauzi Bowo pun mengenalnya, ini di ungkapkan beliau di blog nya.
Mungkin kalo kita melihat beliau di tengah jalan ngak pernah menyangka kalo beliau ini seorang pengusaha sukses.

Bersama Para Staff
Benar kata pepatah Don't judge the book by it's cover
Kayaknya gw masih harus banyak belajar nih dari ustadz kita ini dalam menjalani kehidupan ini.Terakhir gw cuma bisa bilang Salut sama Ustadz Salihan.

Selengkapnya......

Rabu, 04 Juni 2008

Hadi Susanto


Tak banyak yang mengenal nama ini: Hadi Susanto. Ia tak beredar di tanah air sejak awal milenium baru, hampir sepertiga dari umurnya yang baru 29 tahun. Apalagi untuk mendengar reputasinya sebagai salah seorang matematikawan muda yang sedang memahatkan nama di jajaran legenda pakar matematika dunia.


Bahkan para pembaca novel superlaris Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy pun tak akan menduga bahwa Hadi Susanto yang menulis kata pengantar menarik di novel itu adalah Hadi Susanto yang di umur 27 tahun meraih gelar doktor matematika dari Universiteit Twente, Belanda, dan kini mengajar di Nottingham, Inggris.

Lahir di sebuah desa kecil di kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Hadi mencecap pendidikan di SDN Kunir Lor 1, SMPN Kunir, dan SMAN 2 Lumajang. Saat di bangku SD, ia selalu terpilih sebagai wakil sekolah dalam lomba cerdas cermat di tingkat kabupaten. Tapi begitu bertanding nilainya hampir selalu nol. Saya selalu grogi melihat anak dari sekolah lain yang selalu tampak keren dan bergaya, katanya.

Kini dunia berbalik. Banyak yang grogi melihat prestasi mahasiswa terbaik ITB tahun 2000 yang juga aktif berkiprah di dunia sastra. It is impossible to be a mathematician without being a poet in soul ungkapnya mengutip Sofia Vasilyevna Kovalevskaya (1850-1891), matematikawan- cum-penyair Rusia perumus teorema Cauchy-Kovalevsky.
Saat dikontak harian ini sebagai calon tamu berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional, awalnya Hadi menolak. Saya membaca wawancara Koran Tempo dengan Pak Anies Baswedan (rektor Universitas Paramadina red) lewat kiriman e-mail seorang teman. Saya tak sebanding dengan Pak Anies untuk menjadi Tamu, katanya dengan suara lembut di ujung saluran telepon internasional.

Akhirnya, Kamis (15 Mei) lalu, calon ayah yang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya pada Juli depan ini bersedia juga diwawancarai wartawan Tempo Akmal Nasery Basral, setelah berkorespondensi lewat surat elektronik dalam beberapa kesempatan sebelumnya.

Mengapa menurut matematikawan muda yang 26 karya ilmiahnya sudah muncul di sejumlah jurnal internasional itu kebangkitan nasional tak akan terjadi jika hanya muncul dari perayaan yang timbul setahun sekali? Petikannya:


Anda menyelesaikan kuliah dalam tiga tahun dan terpilih sebagai Mahasiswa Terbaik ITB tahun 2000. Bagaimana ceritanya?
Sebetulnya masa kuliah saya hampir 4 tahun. Yang kuliah saja memang 3 tahun, tapi memasuki tahun keempat saya mendapat kesempatan mengunjungi Belanda selama 8 bulan untuk mengerjakan TA (tugas akhir red) di Universiteit Twente (UT). Begitu diwisuda, saya diumumkan terpilih sebagai penerima Ganesa Prize, Mahasiswa Berprestasi Utama ITB, dengan hadiah mengunjungi Belanda lagi selama 3 bulan. Oleh UT saya ditawari melanjutkan kuliah di sana. Maka mulai Agustus 2001 saya mengambil program kombinasi Msc/PhD untuk periode 4 tahun.

Tapi selesai PhD Anda tidak kembali ke Indonesia. Mengapa?
Selesai dari Twente saya melanjutkan studi postdoctoral di Massachussetts, Amerika Serikat. Saya mendapat visiting assistant professorship selama tiga tahun di University of Massachussetts (UMass), Amherst. Kewajiban saya mengajar dua kelas per semester selain tugas melakukan riset. Menjelang selesai di UMass, saya kirimkan sejumlah aplikasi ke universitas di Amerika Serikat dan Eropa. Akhirnya sejak Januari 2008 saya menjadi dosen di University of Nottingham, Inggris. Mengapa saya tidak segera kembali ke Indonesia, karena saya ingin memperdalam dulu bidang ini. Apalagi sekarang istri saya sudah di sini. Juli mendatang, insya Allah anak pertama kami lahir.


Anda terlihat begitu mudah meniti karir. Berpindah-pindah dari Belanda, Amerika Serikat, Inggris, sebagai doktor matematika padahal usia Anda belum lagi 30 tahun. Apakah semua ini memang semudah yang terlihat?
Tidak. Dua tahun pertama saya kuliah di ITB, kondisi saya sulit sekali. Saya tak bisa hidup hanya dari beasiswa, harus kerja juga. Uang kerja dan beasiswa yang saya dapatkan dibagi tiga: untuk kebutuhan saya di Bandung, keperluan orang tua di Lumajang, dan biaya kuliah adik. Tiap Sabtu-Minggu saya keliling hotel dan gedung resepsi di Bandung bermodal pakaian rapi. Tanpa tahu siapa yang punya hajat, saya masuk saja ke pesta orang-orang kaya, yang penting bisa makan. Pernah juga setelah libur lebaran, ketika kembali ke Bandung saya tak punya cukup uang untuk membeli karcis kereta ekonomi. Akhirnya saya naik kereta barang, duduk di lantai gerbong bersama sekitar 100-an orang. Perjalanan sekitar 12 jam itu berlangsung malam hari, dan tanpa lampu di gerbong saya. Gelap sekali. Mungkin kalau dituliskan bisa jadi Laskar Pelangi (judul novel karya Andrea Hirata red) versi Orang Jawa. (tertawa kecil). Itu beberapa contoh besar, kalau penderitaan lainnya banyak sekali.


Bagaimana Anda melewati masa-masa sulit itu untuk bersinar di ITB?
Berkat dukungan dan doa banyak orang. Ketika Dosen Kuliah Agama Islam saya, Ustad Asep Zaenal Ausof akan berangkat umroh, saya datangi dia dan minta didoakan khusus. Saat itu kehidupan saya sedang di bawah sekali. Usaha orang tua saya yang berjualan kain dan baju di pasar bangkrut total. Kami terjebak rentenir, sehingga harus jual sawah, dan akhirnya satu-satunya rumah yang kami punya persis menjelang saya lulus SMA. Begitu lulus SMA, saya sudah memutuskan untuk tidak kuliah. Tapi keluarga saya, terutama ibu, tidak setuju. Saya harus terus kuliah. Alhamdulillah saya lulus UMPTN dan diterima di ITB. Tapi untuk membayar uang masuk yang beberapa ratus ribu saja kami tak mampu, akhirnya saya putuskan lagi untuk tidak mendaftar. Tapi ibu saya berjuang terus sampai detik terakhir. Akhirnya ketika saya bisa berangkat ke Bandung, dalam hati saya cuma ada satu tekad untuk berhasil dan membahagiakan keluarga.


Apa yang menyebabkan Anda begitu tertarik untuk mendalami matematika?
Sejak SD saya suka mengamati bagaimana angka-angka bisa dimainkan dengan operasi-operasi yang saling berhubungan. Di SMP saya mulai menyadari bahwa dasar dari fenomena alam di sekitar kita bisa dirumuskan melalui matematika. Ketika sesuatu sudah dituliskan ke dalam persamaan dan rumus, sesuatu itu menjadi berada di tangan kita yang bisa kita main-mainkan. Tapi pencerahan saya yang sebenarnya terjadi di ITB ketika mengikuti ceramah agama yang disampaikan dosen astronomi Pak Mudji Raharto. Beliau salah seorang astronom yang sampai saat ini selalu menjadi rujukan dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan. Ada satu bagian dari ceramahnya yang membuat saya terpana bahwa alam semesta ini juga bisa dirumuskan dalam formulasi matematika. Saat itu saya berkata dalam hati, Tuhan pasti ahli matematika! Sejak itu pula saya melihat dunia ini seperti tersusun dari angka-angka. Mungkin seperti film The Matrix.

Tetapi mengapa bagi sebagian besar siswa Indonesia, matematika jauh dari pengalaman yang menyenangkan seperti yang Anda alami?
Matematika menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mayoritas siswa Indonesia karena pesan dari matematika itu sering tidak sampai. Jika kita belajar matematika sebagai sebuah hapalan, maka matematika menjadi tidak seksi lagi. Mempelajarinya menjadi sesuatu yang memberatkan. Tapi jika kita tahu bahwa yang dipelajari itu adalah, dan tidak lebih dari, PERUMUMAN dari masalah sehari-hari yang sudah kita kenal, maka matematika akan menjadi sangat menyenangkan. Di Indonesia ada beberapa matematikawan yang menguasai betul bagaimana membuat matematika menjadi menarik, misalnya almarhum Profesor Andi Hakim Nasution yang dulu rutin mengisi kolom di harian Republika dan almarhum Profesor Ahmad Arifin dari ITB.

Anda dikenal juga punya minat yang besar dalam sastra. Misalnya dengan menulis kata pengantar novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy yang kini merupakan film terlaris di tanah air dari jumlah penonton. Puisi-puisi Anda muncul di banyak antologi bersama. Bagaimana relasi antara matematika dan sastra ini berkelindan dalam kehidupan Anda?
Sebetulnya saya kenal Ustad Abik (nama panggilan Habiburrahman El-Shirazy red) lewat internet. Saya waktu itu di Belanda, beliau di Mesir. Kami bertemu di pesantrenvirtual. com. Dari situ sering berdiskusi sastra. Menurut saya hubungan matematika dengan sastra sangat dekat. Untuk bisa menikmati keindahan matematika, tidak hanya diperlukan logika, tapi juga perasaan, seperti halnya seni. Einstein mengatakan, "Pure mathematics is, in its way, the poetry of logical ideas."

Jadi seorang matematikawan pada dasarnya seorang penyair?
Kurang lebih. Dan itu bukan cuma pendapat Einstein. Sofia Kovalevskaya, wanita pertama yang mendapat pendidikan formal PhD di Eropa yang terkenal dengan teorema Cauchy-Kovalevsky, juga seorang penyair. Dia bilang, It is impossible to be a mathematician without being a poet in soul. Karl Weierstrass, peletak dasar analisis matematika modern yang juga mentor Sofia, membenarkan ungkapan muridnya dan menambahkan, "It is true that a mathematician who is not also something of a poet will never be a perfect mathematician. " Kalau kita percaya dengan ucapan Wierstrass ini, maka saya paling tidak penggemar sastra, karena belum bisa disebut sastrawan (tertawa).

Contoh-contoh yang Anda sebut itu dalam konteks apresiasi, bukan? Bagaimana dalam konteks kreasi atau penciptaan karya sastra?
Saya kira contohnya juga banyak. Bahkan Hadiah Nobel di bidang sastra pun ada matematikawan yang memenangkannya. Tahun 1904, Hadiah Nobel untuk sastra diberikan kepada dramawan dan matematikawan spanyol José Echegaray. Tahun 1950, Nobel sastra juga diberikan kepada seorang matematikawan, Bertrand Russell. Dua orang ini disebut matematikawan karena mereka memang profesor matematika. Saya mendengar rumor bahwa pada 1999 seorang matematikawan, associate professor di University of New Mexico, Gallup, juga sempat dinominasikan sebagai kandidat penerima hadiah Nobel sastra.

Apakah relasi yang akrab antara matematika dan sastra itu juga terlihat di dunia Islam?
Ada, misalnya Omar Khayyam yang terkenal dengan Rubaiyyat-nya itu. Selain sebagai penyair, Omar Khayyam juga terkenal sebagai ahli matematika geometri yang mengkoreksi postulat Euclid. Dan saya kira tema-tema seperti ini harus sering diperbincangkan.

Mengapa?
Saya lihat dunia anak muda di Indonesia terlalu banyak dijejali dengan tayangan infotainment, seakan-akan menjadi artis adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar bisa sukses dan terkenal. Ditambah dengan program-program pencari bakat yang menawarkan ketenaran instan yang tanpa disadari sering kali menipu. Padahal dunia sains juga menawarkan gaya selebritisnya sendiri. Misalnya setelah buku Sylvia Nasar A Beautiful Mind terbit, publik jadi mengidolakan matematikawan John Nash Jr. (A Beautiful Mind sudah difilmkan dengan judul sama, dibintangi oleh aktor Russell Crowe sebagai John Nash Jr. -- red). Bahan-bahan seperti ini cukup banyak. Saya sendiri terinspirasi untuk menulis polemik antara Sylvia Nasar dengan Prof. Shing-Tung Yau, salah seorang jenius matematika saat ini yang juga aktif menulis puisi-puisi Cina. Konflik mereka sangat menarik di dunia matematika, tak kalah hebohnya dengan kisruh Maia-Dhani di televisi Indonesia (tertawa).

Seperti apa sih kalau selebritis matematika berseteru?
Konflik mereka dimulai ketika Nasar menulis artikel di The New Yorker yang menuduh Shing-Tung Yau hendak mencuri kredit atas usaha Grigori Perelman yang berhasil memecahkan satu dari Millenium Prize Problems, yang untuk satu solusi dari masing-masing problem berhadiah 1 juta dolar. Dari sini cerita yang menggemparkan dunia permatematikaan internasional ini bergulir. Kisah ini menurut saya menarik untuk dibaca anak-anak muda di Indonesia, selain buku-buku matematika populer yang ditulis oleh mendiang Prof. Hans Wospakrik. Intinya agar generasi muda kita tahu bahwa pengertian idola dan selebritis itu bukan hanya dari kalangan artis.

Jadi Anda mengharapkan ada semacam kebangkitan nasional, dari generasi muda khususnya, dalam memaknai masa depan?
Ketika kuliah di Bandung, saya melihat kebangkitan nasional itu hanya motto belaka bagi kawan-kawan yang berasal dari kalangan berada. Dan tidak mungkin perubahan besar yang diharapkan dari kebangkitan nasional itu akan muncul jika hanya dihasilkan oleh kesadaran yang muncul setahun sekali. Menurut saya kebangkitan nasional harus dilakukan setiap hari, yaitu bangkit untuk bisa bermanfaat bagi orang banyak minimal orang-orang yang bisa saya jangkau dengan kedua tangan saya, dengan membuat mereka bermanfaat pula bagi orang-orang di sekitar mereka. Dengan saling menularkan kebangkitan seperti ini saya kira arti kebangkitan nasional itu baru menemukan maknanya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia matematika di Indonesia sekarang?
Profesor Achmad Arifin pernah bilang, Matematikawan, khususnya aljabar, Indonesia masih berada pada taraf memahami pekerjaan orang lain, belum pada tahap mengembangkan. Saya kira pendapat ini benar. Lihatlah bagaimana guru besar yang seharusnya menjadi ujung tombak dan tolok ukur kualitas penelitian justru seringkali minim kontribusinya di jurnal-jurnal internasional. Namun sebagai orang yang sejak lulus S1 sampai saat ini belum pernah tinggal di Indonesia, saya merasa tidak punya hak lebih untuk memberikan saran. Mesti begitu saya tahu pasti ada banyak dosen dan periset di Indonesia yang terus memegang idealismenya. Mereka orang-orang yang sangat militan di tengah segala keterbatasan dalam melakukan penelitian. Pemerintah dan media massa harus membantu mereka.

Ada kisah-kisah yang lucu sebagai dosen matematika di luar negeri?
Aksen bahasa Inggris di Nottingham ini kan berbeda dengan di Massachussetts, jadi saya harus beradaptasi lagi ketika mengajar. Nah, kadang-kadang begitu ada mahasiswa saya yang bertanya, saya masih belum menangkap inti pertanyaannya, jadi saya bilang, coba ulangi lagi? Eh, mereka bilang nggak jadi. Mungkin mereka pikir dosennya ini ngetes apakah apakah mereka yakin dengan pertanyaan sendiri atau tidak (tertawa)


Selengkapnya......